Now playing

Sekitar Lamongan

Sekitar Lamongan (118)

Seluruh calon Kepala Desa (Cakades) dari 385 desa se-Kabupaten Lamongan, Kamis (05/09/2019) menandatangani deklarasi damai di Pendopo Lokatantra.

Penandatanganan deklarasi tersebut juga diketahui oleh jajaran forkopimda dan forkopimcam dalam upaya menghilangkan konflik (zero conflict) saat penyelenggaraan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)

“Sebenarnya deklarasi damai sudah pernah dilaksanakan di masing-masing wilayah cakades, baik tingkat desa maupun tingkat kecamatan,”kata Bupati Fadeli,SH,MM kepada sejumlah awak media.

Fadeli menyampaikan, deklarasi kali ini terselenggara berkat aspirasi yang berhasil ditampung dari masyarakat dan seluruh cakades dengan tujuan mengantisipasi beberapa hal yang tidak diinginkan setiap tahapan proses Pilkades.

Sementara itu, Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung mengatakan deklarasi damai ini menjadi salah satu upaya mencegah terjadinya konflik. Menurutnya, berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan Polres Lamongan, ada 83 desa yang dinilai memiliki potensi terjadinya konflik sehingga harus mendapatkan perhatian khusus.

"Ada 83 desa yang akan kita fokuskan untuk maksimalkan dan akan kita profiling kembali menjelang pelaksanaan pilkadesnya," kata Feby seusai deklarasi damai di Pendopo Lokatantra Pemkab Lamongan, Kamis (5/9/2019).

Sementara itu, Bupati Lamongan Fadeli menyayangkan sebagian cakades tidak ikut serta dalam deklarasi damai ini. Fadeli menyebut cakades yang tidak mengikuti deklarasi damai berarti belum siap menang. "Dari 897 calon, tidak semuanya hadir, hampir setiap kecamatan ada yang tidak hadir. Yang tidak hadir ini berarti belum siap menang. Justru yang hadir ini adalah ksatria, yang benar-benar memahami demokrasi," tambahnya.

Fadeli berpesan kepada cakades yang hadir agar bersaing secara sehat dan tetap menjaga keutuhan di kalangan masyarakat. "Saya melihat semangat untuk tetap kompak, guyub, rukun. Insyaallah nanti pelaksanaannya tetap aman dan sukses," harapnya. (ID)
Bupati Fadeli mengungkapkan harapan besar kepada seluruh Pramuka untuk dapat menjadi pelopor peningkatan ekonomi di tingkat desa.

Hal itu disampaikannya saat membuka Orientasi Kepramukaan Bagi Pengurus dan Andalan Cabang, Mabiran, Kwarran, Gugus Depan dan Satuan Karya Kwartir Cabang Lamongan Tahun 2019 di Pendopo Lokatantra, Rabu (4/9).

“Saya minta bantuan kepada seluruh pengurus maupun anggota pramuka khususnya peningkatan ekonomi di tingkat desa. Dana desa yang dikucurkan itu jangan sampai salah sasaran,” ujar Fadeli.

Selain itu Fadeli juga belum melihat program Warung LA (Warla) berjalan dengan maksimal. Padahal dia berharap dengan adanya Warla di setiap desa, dapat meningkatkan ekonomi warga desa.

“Tahun ini Warla belum berjalan dengan baik. Padahal tujuan pendirian Warla ini agar pertukaran uang tetap ada di desa, sehingga uang yang ada didesa tidak dibawa ke pertokoan-pertokoan besar,” imbuhnya.

Sementara itu Sekkab Yuhronur Efendi yang juga Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Lamongan menegaskan orientasi itu dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pramuka sebagai pemimpin. Tidak hanya di kelompoknya, namun di lingkungan tempat tinggalnya juga.

“Sebagai salah satu rangkaian acara pramuka ke 58, orientasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan pramuka. Selain tentunya untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan kepramukaan bagi seluruh pengurus serta anggota pramuka diseluruh Lamongan,” ungkapnya.

Acara yang dinarasumberi oleh Prof. Dr. Suyatno ini diikuti sebanyak 540 orang. Yang terdiri dari Kamabigus tingkat SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK/MA serta Pimpinan Saka. (*)
Ada yang berbeda pada Minggu Ceria (Mince) di Alun-alun Lamonga, Minggu pagi (1/9). Berbagai stand mulai dari milik OPD seperti dari Dinas Perindag, Bank Jatim, Persela Store bahkan Nasi Boran.

Ternyata pagi itu Pemkab Lamongan menggelar Launching LA Pay. Sebuah instrument pembayaran non tunai kerjasama Pemkab Lamongan bersama PT Veritra Sentosa Internasional.

Belasan stand tersebut sudah melayani transaksi oleh masyarakat dengan menggunakan metode pembayaran dari LA Pay.

Seperti yang diketahui, selama satu bulan ini LA Pay sedang gencar-gencarnya disosialisasikan. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Fadeli pada acara tersebut.

“Saat ini masyarakat Lamongan telah dimanjakan dengan teknologi financial. Melakukan transaksi pembayaran melalui digital. Kemana-mana tidak perlu membawa banyak uang. Cukup dengan membawa handphone yang berisikan aplikasi LA Pay, dapat digunakan untuk transaksi apapun,” ungkap Fadeli.

Tak hanya transaksi jual beli, Fadeli menjelaskan pembayaran Baznas bahkan infaq pun bisa dilakukan dari rumah.

Saat ini sudah beberapa masjid tergabung dengan LA Pay. Diantaranya adalah Masjid Agung Lamongan dan Al-Azhar. “Masyarakat Lamongan juga bisa berinfaq melalui scan barcode di kotak amal,” lanjut Fadeli.

Fadeli mengungkapkan bahwa aplikasi LA Pay ini tidak hanya bisa dilakukan di Lamongan saja, tetapi juga di seluruh Indonesia. Karena LA Pay adalah bagian dari PayTren yang sudah diakui secara nasional.

Sementara Deddi Nordiawan Direktur Keuangan PayTren mengungkapkan bahwa PayTren hadir sebagai karya 100 persen anak bangsa dan kini hadir di Lamongan bersama melahirkan LA Pay.

“Jadi Kabupaten Lamongan adalah yang pertama memiliki alat pembayaran digital sendiri di Indonesia,” ungkap Deddi Nordiawan

Deddi Nordiawan juga menjelaskan berbagai keistimewaan dari LA Pay. Diantaranya LA Pay memberikan fasilitas teknologi yang bisa digunakan oleh masyarakat Lamongan untuk bertansaksi baik di Lamongan maupun di luar Lamongan.

Keistimawaan lainnya, yakni LA Pay memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lamongan.

Namun dia juga mengakui bahwa memang butuh sosialisasi yang kuat untuk merubah kebiasaan masyarakat menggunakan aplikasi pembayaran tersebut. Namun dengan kemudahan - kemudahan yang ada, dia yakin Kabupaten Lamongan akan menjadi kota digital pertama di Indonesia. (*)
Tak cukup sehari, Lamongan menggelar karnaval dua hari berturut-turut dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-74 Tahun 2019. Setelah tingkat TK dan SD sederajat, karnaval hari kedua diikuti lembaga tingkat SMP/MTs, SMK/SMK/MA, dan umum, Kamis (29/8).

Berbagai kostum unik bertemakan busana nasional dan adat hingga sejarah Lamongan ditampilkan oleh peserta karnaval. Seperti SMK 1 Lamongan yang mengusung tema Panji Laras dan Liris.

Dengan menampilkan nuansa cerita rakyat lengkap dengan perajurit, penonton diingatkan kembali dengan kisah legendaris perjodohan panji laras dan liris dengan putri Andansari dan Andanwangi.

Meski berakhir sedih, cerita legendaris ini diyakini oleh masyarakat Lamongan sebagai asal usul tradisi pernikahan unik di Lamongan. Dimana pihak perempuan yang meminang pihak laki-laki. Bahkan beberapa wilayah di Lamongan masih mempraktekkan tradisi ini hingga sekarang.

Karnaval ini juga dijadikan ajang menampilkan kesenian khas Lamongan Jaran Jenggo hingga Pengantin Bekasri. Ini menurut Kabag Humas dan Protokol Agus Hendrawan agar sejarah dan budaya asli Lamongan tidak luntur oleh modernitas zaman.

Karnaval yang diikuti sebanyak 90 lembaga ini terdiri dari 9 lembaga tingkat SMP/MTs, 10 lembaga SMA/SMK/MA dan 71 OPD sekabupaten Lamongan.

Adapun Rute karnaval yang diberangkatkan Bupati Fadeli bersama Forkopimda setempat dari depan Pendopo Lokatantra melewati Jalan Lamongrejo, Jalan DR. Wahidin , Jalan Soewoko, masuk jalan sunan drajat (patung bandeng lele), kemudian lewat Jalan Andanwangi dan jalan Andansari, masuk Jalan Basuki Rahmad (Gedung DPR), Jalan Sunan Giri, melewati Jalan Sunan Kalijogo, Jalan Ahmad Yani, dan Finish pasar tingkat ke Utara. (*)
Page 1 of 30